Kumpulan Kosmetik



KOSMETIK dan perempuan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Agar terlihat cantik, perempuan umumnya senang menggunakan kosmetik, seperti bedak, pemulas bibir, dan perona mata. Dengan memakai kosmetik, perempuan pun menjadi lebih percaya diri.
Namun, selain untuk kecantikan, kosmetik juga berfungsi merawat kulit, terutama kulit wajah. Untuk alasan kedua ini, konsumen dituntut lebih jeli saat membeli produk-produk kosmetik.
Itulah yang dikemukakan Nurliza, 27 tahun. Menurutnya, selain dapat membuat permukaan kulit penggunanya terlihat menarik, kosmetik juga dapat menutrisi hingga ke lapisan kulit terdalam.
Sebagai seorang Sarjana Teknik Kimia, Nurliza paham betul dampak yang ditimbulkan jika salah memilih kosmetik. Alih-alih ingin mendapatkan kulit yang cantik, bersih, dan putih, yang terjadi justru sebaliknya. Wajah mengalami iritasi, bahkan muncul flek dini.
“Makanya, dari dulu saya tidak terobsesi untuk putih. Saya juga tidak pernah memakai produk-produk pasaran yang tidak jelas komposisinya,” ujar Liza kepada The Atjeh Post, Senin lalu.
Pun begitu, bukan berarti Liza tidak memakai kosmetik. Ia butuh perawatan ekstra untuk menjaga kulit wajahnya yang sensitif.  Hanya saja, Liza memilih produk dengan kualitas terjamin dan komposisi bahan kimia yang jelas untuk perangkat kosmetik, seperti pembersih, pelembab, bedak, dan produk lainnya.
“Yang paling penting adalah memastikan produk itu tidak mengandung bahan kimia, seperti hidrokinon, arsenik, dan merkuri. Penggunaan zat kimia ini, dalam jangka lama, bisa merusak kulit, bahkan memicu terjadinya kanker kulit,” ujar pegawai di Bapedal Aceh ini.
Selain itu, kata Liza, yang penting adalah track record perusahaan kosmetik tersebut. Ia sendiri memilih perusahaan yang lisensinya benar-benar sudah terjamin dan diakui secara internasional. Selain itu, yang terpenting adalah lulus uji tes dermatologis. Ini penting karena banyak produk kosmetik yang hanya memakai standar animal testing. “Padahal sensitivitas kulit manusia dan kulit hewan itu berbeda,” katanya.
Produk-produk yang dipakainya pun diolah dari bahan organik, seperti lidah buaya, enzim jamur, cherry, tanah liat, dan material alami lainnya.  “Saya bisa pastikan organik karena perusahaan tersebut memiliki lahan pertanian sendiri,” ujarnya.
Lain Liza, lain pula cerita Nana. Ibu dua anak yang berusia di awal kepala tiga ini mengaku lebih memilih produk racikan dokter. Untuk kulitnya yang super sensitif, ia rutin konsultasi ke dokter langganannya. “Minimal sebulan sekali,” katanya.
Tak hanya konsultasi, Nana juga kerap membersihkan wajahnya (facial) ke dokter secara rutin. Produk racikan dokter yang biasa ia pakai seperti krim siang dan malam, pembersih, ataupun pelembab wajah.
“Saya pernah coba pakai produk kosmetik tanpa konsultasi dulu ke dokter. Muka saya langsung iritasi, merah-merah, dan terlihat kusam. Padahal, produk yang saya beli waktu itu juga bukan produk asal-asalan,” katanya.
Dokter spesialis kulit di RSUD Aceh Barat Daya, dr. Wahyu Lestari, Sp.K.K., kepada The Atjeh Post mengatakan, ada beberapa unsur kimia yang umumnya terkandung dalam produk kosmetik, seperti merkuri, hidrokinon, asam glikolat, asam kojik, dan asam askorbat.
Zat-zat berbahaya ini, kata dia, dapat menyerap ke dalam lapisan jaringan kulit. Efek penyerapan merkuri, misalnya, bisa menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, merkuri biasanya akan berkumpul di hati dan otak. Reaksi lainnya bisa menimbulkan alergi, iritasi, kerusakan pada susunan saraf, dan janin. Gejala lainnya bisa berupa diare dan muntah-muntah jika dalam dosis tinggi.
Adapun hidrokinon, katanya, bersifat sebagai penghambat melanogenesis atau pembentukan melanin sehingga bisa mengurangi efek gelap di kulit. “Namun demikian, tetap tidak bisa mengubah warna kulit,” katanya.
Kadarnya bervariasi. Untuk hodrokinon, misalnya, umumnya hanya dipakai sekitar 2-5 %, sedangkan asam kojik sekitar 1-4 %. Efek yang terjadi pun tidak seketika. Penggunanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk merasakan gejala tersebut.
Itu yang di permukaan kulit, sedangkan kulit di lapisan dalam bisa bertahun-tahun. Ciri-ciri kulit yang rusak akibat penggunaan produk berbahan kimia ini seperti munculnya jerawat dan flek hitam, kulit wajah terlihat putih mengkilat, seperti porcelain atau berwarna merah jambu.
Lestari pun mewanti-wanti agar tak salah pilih kosmetik. Ia menyarankan agar tidak membeli kosmetik yang berwarna dan memiliki aroma atau wangi yang menyengat. Ia juga menyarankan produk kosmetik yang sudah lulus uji dermatologic tested.
Untuk mengetahuinya cukup mudah karena biasanya tertera di kemasan produk. Pun begitu, konsumen tetap harus waspada karena pemalsuan produk kosmetik kian marak. “Konsultasi ke dokter juga penting, apalagi sekarang penjual produk kosmetik semakin bebas. Jadi, pemakaian kosmetik dilakukan di bawah pengawasan dokter,” katanya.
Tak sulit pula mengenali produk kosmetik berbahan kimia tersebut. Produk-produk yang mengandung merkuri biasanya cepat berubah warna menjadi kecoklatan bila ditaruh di tempat panas.
Sebaiknya, kata dia, gunakan kosmetik organik yang memiliki komposisi, seperti soya, ekstrak pir, teh hijau, licorice, lidah buaya, kunyit, atau manggis. Produk berbahan alami tersebut, kata dia, sudah tersedia dalam bentuk krim sehingga lebih aman dan terjamin.
“Untuk pengobatan kulit, tidak ada yang instan. Kita juga harus rajin membersihkan wajah dua kali sehari, memakai tabir surya rutin, dan jangan memakai kosmetik bebas yang tidak jelas komposisinya,” katanya, dua pekan lalu.
Wanti-wanti juga datang dari Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM). Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Aceh, Mulia Warman, mengatakan konsumen kosmetik masih kurang jeli memilih produk, terutama yang dijual bebas di pasaran. Hal itu, kata dia, karena konsumen kurang memahami produk yang dipakai.
Kosmetik yang umumnya rentan penggunaan zat kimia, kata dia, seperti lipstik, krim pemutih, dan masker wajah. Mulia pun menegaskan, konsumen sebaiknya tidak membeli produk tanpa label BPOM. Saat uji laboratorium, katanya, yang paling sering ditemukan ada empat zat, yaitu asam retinoat, hidrokinon, merkuri, dan rhodamin B.


KOSMETIK dan perempuan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Agar terlihat cantik, perempuan umumnya senang menggunakan kosmetik, seperti bedak, pemulas bibir, dan perona mata. Dengan memakai kosmetik, perempuan pun menjadi lebih percaya diri.
Namun, selain untuk kecantikan, kosmetik juga berfungsi merawat kulit, terutama kulit wajah. Untuk alasan kedua ini, konsumen dituntut lebih jeli saat membeli produk-produk kosmetik.
Itulah yang dikemukakan Nurliza, 27 tahun. Menurutnya, selain dapat membuat permukaan kulit penggunanya terlihat menarik, kosmetik juga dapat menutrisi hingga ke lapisan kulit terdalam.
Sebagai seorang Sarjana Teknik Kimia, Nurliza paham betul dampak yang ditimbulkan jika salah memilih kosmetik. Alih-alih ingin mendapatkan kulit yang cantik, bersih, dan putih, yang terjadi justru sebaliknya. Wajah mengalami iritasi, bahkan muncul flek dini.
“Makanya, dari dulu saya tidak terobsesi untuk putih. Saya juga tidak pernah memakai produk-produk pasaran yang tidak jelas komposisinya,” ujar Liza kepada The Atjeh Post, Senin lalu.
Pun begitu, bukan berarti Liza tidak memakai kosmetik. Ia butuh perawatan ekstra untuk menjaga kulit wajahnya yang sensitif.  Hanya saja, Liza memilih produk dengan kualitas terjamin dan komposisi bahan kimia yang jelas untuk perangkat kosmetik, seperti pembersih, pelembab, bedak, dan produk lainnya.
“Yang paling penting adalah memastikan produk itu tidak mengandung bahan kimia, seperti hidrokinon, arsenik, dan merkuri. Penggunaan zat kimia ini, dalam jangka lama, bisa merusak kulit, bahkan memicu terjadinya kanker kulit,” ujar pegawai di Bapedal Aceh ini.
Selain itu, kata Liza, yang penting adalah track record perusahaan kosmetik tersebut. Ia sendiri memilih perusahaan yang lisensinya benar-benar sudah terjamin dan diakui secara internasional. Selain itu, yang terpenting adalah lulus uji tes dermatologis. Ini penting karena banyak produk kosmetik yang hanya memakai standar animal testing. “Padahal sensitivitas kulit manusia dan kulit hewan itu berbeda,” katanya.
Produk-produk yang dipakainya pun diolah dari bahan organik, seperti lidah buaya, enzim jamur, cherry, tanah liat, dan material alami lainnya.  “Saya bisa pastikan organik karena perusahaan tersebut memiliki lahan pertanian sendiri,” ujarnya.
Lain Liza, lain pula cerita Nana. Ibu dua anak yang berusia di awal kepala tiga ini mengaku lebih memilih produk racikan dokter. Untuk kulitnya yang super sensitif, ia rutin konsultasi ke dokter langganannya. “Minimal sebulan sekali,” katanya.
Tak hanya konsultasi, Nana juga kerap membersihkan wajahnya (facial) ke dokter secara rutin. Produk racikan dokter yang biasa ia pakai seperti krim siang dan malam, pembersih, ataupun pelembab wajah.
“Saya pernah coba pakai produk kosmetik tanpa konsultasi dulu ke dokter. Muka saya langsung iritasi, merah-merah, dan terlihat kusam. Padahal, produk yang saya beli waktu itu juga bukan produk asal-asalan,” katanya.
Dokter spesialis kulit di RSUD Aceh Barat Daya, dr. Wahyu Lestari, Sp.K.K., kepada The Atjeh Post mengatakan, ada beberapa unsur kimia yang umumnya terkandung dalam produk kosmetik, seperti merkuri, hidrokinon, asam glikolat, asam kojik, dan asam askorbat.
Zat-zat berbahaya ini, kata dia, dapat menyerap ke dalam lapisan jaringan kulit. Efek penyerapan merkuri, misalnya, bisa menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, merkuri biasanya akan berkumpul di hati dan otak. Reaksi lainnya bisa menimbulkan alergi, iritasi, kerusakan pada susunan saraf, dan janin. Gejala lainnya bisa berupa diare dan muntah-muntah jika dalam dosis tinggi.
Adapun hidrokinon, katanya, bersifat sebagai penghambat melanogenesis atau pembentukan melanin sehingga bisa mengurangi efek gelap di kulit. “Namun demikian, tetap tidak bisa mengubah warna kulit,” katanya.
Kadarnya bervariasi. Untuk hodrokinon, misalnya, umumnya hanya dipakai sekitar 2-5 %, sedangkan asam kojik sekitar 1-4 %. Efek yang terjadi pun tidak seketika. Penggunanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk merasakan gejala tersebut.
Itu yang di permukaan kulit, sedangkan kulit di lapisan dalam bisa bertahun-tahun. Ciri-ciri kulit yang rusak akibat penggunaan produk berbahan kimia ini seperti munculnya jerawat dan flek hitam, kulit wajah terlihat putih mengkilat, seperti porcelain atau berwarna merah jambu.
Lestari pun mewanti-wanti agar tak salah pilih kosmetik. Ia menyarankan agar tidak membeli kosmetik yang berwarna dan memiliki aroma atau wangi yang menyengat. Ia juga menyarankan produk kosmetik yang sudah lulus uji dermatologic tested.
Untuk mengetahuinya cukup mudah karena biasanya tertera di kemasan produk. Pun begitu, konsumen tetap harus waspada karena pemalsuan produk kosmetik kian marak. “Konsultasi ke dokter juga penting, apalagi sekarang penjual produk kosmetik semakin bebas. Jadi, pemakaian kosmetik dilakukan di bawah pengawasan dokter,” katanya.
Tak sulit pula mengenali produk kosmetik berbahan kimia tersebut. Produk-produk yang mengandung merkuri biasanya cepat berubah warna menjadi kecoklatan bila ditaruh di tempat panas.
Sebaiknya, kata dia, gunakan kosmetik organik yang memiliki komposisi, seperti soya, ekstrak pir, teh hijau, licorice, lidah buaya, kunyit, atau manggis. Produk berbahan alami tersebut, kata dia, sudah tersedia dalam bentuk krim sehingga lebih aman dan terjamin.
“Untuk pengobatan kulit, tidak ada yang instan. Kita juga harus rajin membersihkan wajah dua kali sehari, memakai tabir surya rutin, dan jangan memakai kosmetik bebas yang tidak jelas komposisinya,” katanya, dua pekan lalu.
Wanti-wanti juga datang dari Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM). Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Aceh, Mulia Warman, mengatakan konsumen kosmetik masih kurang jeli memilih produk, terutama yang dijual bebas di pasaran. Hal itu, kata dia, karena konsumen kurang memahami produk yang dipakai.
Kosmetik yang umumnya rentan penggunaan zat kimia, kata dia, seperti lipstik, krim pemutih, dan masker wajah. Mulia pun menegaskan, konsumen sebaiknya tidak membeli produk tanpa label BPOM. Saat uji laboratorium, katanya, yang paling sering ditemukan ada empat zat, yaitu asam retinoat, hidrokinon, merkuri, dan rhodamin B.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2012/10/27/25573/0/18/Ingin-Kulit-Cantik-Kenali-Ancaman-Kosmetik#sthash.WaboCNUW.dpuf
KOSMETIK dan perempuan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Agar terlihat cantik, perempuan umumnya senang menggunakan kosmetik, seperti bedak, pemulas bibir, dan perona mata. Dengan memakai kosmetik, perempuan pun menjadi lebih percaya diri.
Namun, selain untuk kecantikan, kosmetik juga berfungsi merawat kulit, terutama kulit wajah. Untuk alasan kedua ini, konsumen dituntut lebih jeli saat membeli produk-produk kosmetik.
Itulah yang dikemukakan Nurliza, 27 tahun. Menurutnya, selain dapat membuat permukaan kulit penggunanya terlihat menarik, kosmetik juga dapat menutrisi hingga ke lapisan kulit terdalam.
Sebagai seorang Sarjana Teknik Kimia, Nurliza paham betul dampak yang ditimbulkan jika salah memilih kosmetik. Alih-alih ingin mendapatkan kulit yang cantik, bersih, dan putih, yang terjadi justru sebaliknya. Wajah mengalami iritasi, bahkan muncul flek dini.
“Makanya, dari dulu saya tidak terobsesi untuk putih. Saya juga tidak pernah memakai produk-produk pasaran yang tidak jelas komposisinya,” ujar Liza kepada The Atjeh Post, Senin lalu.
Pun begitu, bukan berarti Liza tidak memakai kosmetik. Ia butuh perawatan ekstra untuk menjaga kulit wajahnya yang sensitif.  Hanya saja, Liza memilih produk dengan kualitas terjamin dan komposisi bahan kimia yang jelas untuk perangkat kosmetik, seperti pembersih, pelembab, bedak, dan produk lainnya.
“Yang paling penting adalah memastikan produk itu tidak mengandung bahan kimia, seperti hidrokinon, arsenik, dan merkuri. Penggunaan zat kimia ini, dalam jangka lama, bisa merusak kulit, bahkan memicu terjadinya kanker kulit,” ujar pegawai di Bapedal Aceh ini.
Selain itu, kata Liza, yang penting adalah track record perusahaan kosmetik tersebut. Ia sendiri memilih perusahaan yang lisensinya benar-benar sudah terjamin dan diakui secara internasional. Selain itu, yang terpenting adalah lulus uji tes dermatologis. Ini penting karena banyak produk kosmetik yang hanya memakai standar animal testing. “Padahal sensitivitas kulit manusia dan kulit hewan itu berbeda,” katanya.
Produk-produk yang dipakainya pun diolah dari bahan organik, seperti lidah buaya, enzim jamur, cherry, tanah liat, dan material alami lainnya.  “Saya bisa pastikan organik karena perusahaan tersebut memiliki lahan pertanian sendiri,” ujarnya.
Lain Liza, lain pula cerita Nana. Ibu dua anak yang berusia di awal kepala tiga ini mengaku lebih memilih produk racikan dokter. Untuk kulitnya yang super sensitif, ia rutin konsultasi ke dokter langganannya. “Minimal sebulan sekali,” katanya.
Tak hanya konsultasi, Nana juga kerap membersihkan wajahnya (facial) ke dokter secara rutin. Produk racikan dokter yang biasa ia pakai seperti krim siang dan malam, pembersih, ataupun pelembab wajah.
“Saya pernah coba pakai produk kosmetik tanpa konsultasi dulu ke dokter. Muka saya langsung iritasi, merah-merah, dan terlihat kusam. Padahal, produk yang saya beli waktu itu juga bukan produk asal-asalan,” katanya.
Dokter spesialis kulit di RSUD Aceh Barat Daya, dr. Wahyu Lestari, Sp.K.K., kepada The Atjeh Post mengatakan, ada beberapa unsur kimia yang umumnya terkandung dalam produk kosmetik, seperti merkuri, hidrokinon, asam glikolat, asam kojik, dan asam askorbat.
Zat-zat berbahaya ini, kata dia, dapat menyerap ke dalam lapisan jaringan kulit. Efek penyerapan merkuri, misalnya, bisa menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, merkuri biasanya akan berkumpul di hati dan otak. Reaksi lainnya bisa menimbulkan alergi, iritasi, kerusakan pada susunan saraf, dan janin. Gejala lainnya bisa berupa diare dan muntah-muntah jika dalam dosis tinggi.
Adapun hidrokinon, katanya, bersifat sebagai penghambat melanogenesis atau pembentukan melanin sehingga bisa mengurangi efek gelap di kulit. “Namun demikian, tetap tidak bisa mengubah warna kulit,” katanya.
Kadarnya bervariasi. Untuk hodrokinon, misalnya, umumnya hanya dipakai sekitar 2-5 %, sedangkan asam kojik sekitar 1-4 %. Efek yang terjadi pun tidak seketika. Penggunanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk merasakan gejala tersebut.
Itu yang di permukaan kulit, sedangkan kulit di lapisan dalam bisa bertahun-tahun. Ciri-ciri kulit yang rusak akibat penggunaan produk berbahan kimia ini seperti munculnya jerawat dan flek hitam, kulit wajah terlihat putih mengkilat, seperti porcelain atau berwarna merah jambu.
Lestari pun mewanti-wanti agar tak salah pilih kosmetik. Ia menyarankan agar tidak membeli kosmetik yang berwarna dan memiliki aroma atau wangi yang menyengat. Ia juga menyarankan produk kosmetik yang sudah lulus uji dermatologic tested.
Untuk mengetahuinya cukup mudah karena biasanya tertera di kemasan produk. Pun begitu, konsumen tetap harus waspada karena pemalsuan produk kosmetik kian marak. “Konsultasi ke dokter juga penting, apalagi sekarang penjual produk kosmetik semakin bebas. Jadi, pemakaian kosmetik dilakukan di bawah pengawasan dokter,” katanya.
Tak sulit pula mengenali produk kosmetik berbahan kimia tersebut. Produk-produk yang mengandung merkuri biasanya cepat berubah warna menjadi kecoklatan bila ditaruh di tempat panas.
Sebaiknya, kata dia, gunakan kosmetik organik yang memiliki komposisi, seperti soya, ekstrak pir, teh hijau, licorice, lidah buaya, kunyit, atau manggis. Produk berbahan alami tersebut, kata dia, sudah tersedia dalam bentuk krim sehingga lebih aman dan terjamin.
“Untuk pengobatan kulit, tidak ada yang instan. Kita juga harus rajin membersihkan wajah dua kali sehari, memakai tabir surya rutin, dan jangan memakai kosmetik bebas yang tidak jelas komposisinya,” katanya, dua pekan lalu.
Wanti-wanti juga datang dari Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM). Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Aceh, Mulia Warman, mengatakan konsumen kosmetik masih kurang jeli memilih produk, terutama yang dijual bebas di pasaran. Hal itu, kata dia, karena konsumen kurang memahami produk yang dipakai.
Kosmetik yang umumnya rentan penggunaan zat kimia, kata dia, seperti lipstik, krim pemutih, dan masker wajah. Mulia pun menegaskan, konsumen sebaiknya tidak membeli produk tanpa label BPOM. Saat uji laboratorium, katanya, yang paling sering ditemukan ada empat zat, yaitu asam retinoat, hidrokinon, merkuri, dan rhodamin B.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2012/10/27/25573/0/18/Ingin-Kulit-Cantik-Kenali-Ancaman-Kosmetik#sthash.WaboCNUW.dpuf

Categories: Share

Leave a Reply